
Rupiah Tertekan Mendekati Nilai Fundamental, Bank Indonesia Waspadai Dampak Geopolitik dan Perang Iran
Jakarta – Nilai tukar rupiah pada April 2026 mengalami tekanan signifikan hingga mendekati nilai fundamentalnya. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor global, termasuk ketegangan geopolitik yang meningkat akibat konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran.
Penguatan dolar Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang. Namun, eskalasi konflik Iran turut memperburuk sentimen pasar global. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia serta lonjakan harga minyak membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS dan emas.
Bank Indonesia (BI) dalam keterangannya menegaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini mencerminkan tekanan eksternal yang kuat, namun masih berada dalam kisaran yang sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. BI menyebut bahwa indikator makroekonomi domestik tetap solid, seperti inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, serta cadangan devisa yang cukup untuk menjaga ketahanan sektor eksternal.
“Nilai tukar rupiah memang mengalami tekanan, namun secara fundamental masih mencerminkan kondisi ekonomi nasional yang kuat,” ungkap pernyataan resmi Bank Indonesia.
BI juga menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga kepercayaan pasar.
Dampak dari konflik Iran tidak hanya dirasakan pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi menekan perekonomian domestik. Kenaikan harga minyak global dapat meningkatkan beban impor energi Indonesia, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap inflasi dan daya beli masyarakat. Selain itu, biaya logistik dan produksi berpotensi meningkat, sehingga dapat menekan sektor industri.
Pengamat ekonomi menilai bahwa jika konflik geopolitik terus berlanjut, volatilitas nilai tukar rupiah masih akan tinggi dalam jangka pendek. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang responsif dan terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Bank Indonesia tetap optimistis bahwa dengan fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang tepat, stabilitas rupiah dapat kembali terjaga seiring meredanya tekanan eksternal.
Sumber: Ruang ArgumenMagister Hukum Kesehatan UNINUS MMRS Universitas Gajayana RPL MKM Universitas MH Thamrin MMRS Universitas Sangga Buana ARS University
RUPIAH TERTEKAN MENDEKATI NILAI FUNDAMENTALJumat, 24 Apr 2026, 11:02:59 WIB, Dibaca : 5 Kali |
100 HARI BAZNAS WABUP \"SETORAN ZAKAT DI PERLUAS DI LUAR ASN\"Kamis, 23 Apr 2026, 15:31:11 WIB, Dibaca : 44 Kali |
RESMI ADUKAN KE APH !! IMM SUBANG MEMINTA AUDIT DEWAN PENDIDIKANKamis, 23 Apr 2026, 15:13:25 WIB, Dibaca : 88 Kali |