
Subang-ruangargumen.com | Universitas Islam Bandung (UNISBA) berkolaborasi dengan Universal Volunteer Indonesia (UVI) dan PKK Desa Kiarasari, didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Subang, meluncurkan program riset dan pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengelolaan sampah organik menggunakan teknologi sederhana yang inovatif: Bata Terawang.

Program yang dimulai sejak awal Oktober 2025 ini bertujuan ganda: mengatasi masalah sampah organik sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya pencegahan stunting di Desa Kiarasari, Compreng, Subang.
Pelaksanaan dan Sosialisasi Teknologi Bata Terawang
Fase awal program mencakup sosialisasi dan pembangunan sarana komposter Bata Terawang. Sebanyak 7 unit komposter bata terawang telah didirikan, dengan 5 unit berlokasi di sekretariat UVI (Dusun Sukaseneng, RT 18 RW 08, Desa Compreng) dan 2 unit di belakang Kantor Desa Kiarasari.
Pada hari ini, dilaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) pengoperasian Bata Terawang bagi anggota UVI, warga Desa Kiarasari, dan mahasiswa UNISBA yang didampingi oleh dosen pembimbing.
Bata Terawang merupakan metode pengomposan menggunakan susunan bata yang dibentuk berongga. Rongga-rongga ini sangat penting untuk memastikan sirkulasi udara (aerasi) yang baik, mempercepat proses pembusukan aerobik, dan menghasilkan kompos berkualitas dalam waktu 6–8 minggu. Metode ini dinilai sebagai teknologi yang murah dan mudah direplikasi oleh masyarakat.
Apresiasi dan Dampak Program
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari UNISBA (dosen dan mahasiswa), Desa Kiarasari, Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Jatireja dan Compreng, serta tim DLH Subang.
Cece Rahman dari DLH Subang menyampaikan apresiasi tinggi kepada civitas akademika UNISBA yang memilih Desa Kiarasari sebagai lokasi riset dan berhasil memberdayakan komunitas pegiat lingkungan seperti UVI dan PKK.
Tujuan Utama: Program ini fokus pada pengolahan sampah organik kering bercampur sampah organik dapur menjadi kompos.
Dampak Lingkungan dan Sosial: Kompos yang dihasilkan akan digunakan sebagai pupuk pertanian organik (termasuk untuk Tanaman Obat Keluarga) dan untuk menanam tanaman yang dapat menjadi makanan tambahan bagi penyintas stunting.
Dr. Ir. M. Satori, M.T, IPU, selaku Ketua Dosen Pembimbing dari UNISBA, menjelaskan bahwa teknologi Bata Terawang adalah solusi pengelolaan sampah yang murah, aplikatif, dan dapat dilakukan oleh semua orang, termasuk melalui PKK di tingkat RW.
Supianto, Ketua Universal Volunteer Indonesia (UVI), menyambut baik program ini, menyatakan bahwa inisiatif dari UNISBA ini sangat menambah pengetahuan dan menjadi solusi praktis dalam pengelolaan sampah organik di komunitas mereka.
Program riset mahasiswa ini, di bawah bimbingan Dr. M. Satori, M.T, IPU, menjadi contoh nyata kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas dalam mewujudkan lingkungan bersih dan pertanian organik berkelanjutan.
Anda bisa melihat bagaimana komposter Bata Terawang ini bekerja melalui video Composter Bata Terawang. Video ini memberikan gambaran tentang sarana pengomposan sampah organik menggunakan bata terawang.
Kamis, 05 Mar 2026, 15:53:33 WIB, Dibaca : 88 Kali |
Selasa, 03 Mar 2026, 23:20:08 WIB, Dibaca : 157 Kali |
Selasa, 03 Mar 2026, 21:52:33 WIB, Dibaca : 60 Kali |