ruangargumen.com | SUMEDANG – Kecerdasan dalam membaca konstelasi sosial dan membangun jembatan komunikasi antar-elemen masyarakat ditunjukkan secara apik oleh Bayu Satya Prawira dalam gelaran seni di Desa Kebonjati, Sumedang Utara. Bayu secara genius menggunakan instrumen kebudayaan sebagai media perekat (social glue) untuk menyatukan berbagai faksi penting di daerah.
Indikator keberhasilan narasi inklusif yang dibangun Bayu terlihat dari konvergensi tokoh yang hadir. Acara ini sukses mempertemukan jajaran birokrasi dari Disbudparpora dan pihak Kecamatan, legislator DPRD Kabupaten Sumedang, unsur TNI-Polri (Polsek, Koramil, Babinsa), civitas akademika dari unsur mahasiswa, hingga struktur terkecil kepemimpinan warga (RT/RW dan PKK).
Dalam pemaparannya, Bayu Satya Prawira menggarisbawahi bahwa pembangunan daerah yang berkelanjutan tidak dapat berjalan parsial, melainkan harus berbasis sinergi pentahelix.
"Budaya adalah satu-satunya bahasa universal yang mampu mencairkan batas-batas formalitas. Saat seluruh elemen—dari pembuat kebijakan, aparat keamanan, tokoh agama, hingga pemuda—duduk bersama menyaksikan Reog atau Bobodoran, di sanalah komunikasi kultural yang jujur terjadi. Dari sinilah modal sosial untuk membangun Sumedang bermula," ungkap Bayu penuh kematangan.
Melalui pendekatan yang integratif ini, Bayu membuktikan bahwa festival budaya di tangan konseptor yang tepat dapat menjelma menjadi forum konsolidasi daerah yang sangat efektif dan bernilai tinggi.
Sumber: Ruang ArgumenMagister Hukum Kesehatan UNINUS MMRS Universitas Gajayana RPL MKM Universitas MH Thamrin MMRS Universitas Sangga Buana ARS University
Kamis, 21 Mei 2026, 00:48:05 WIB, Dibaca : 5 Kali |
Kamis, 21 Mei 2026, 00:45:03 WIB, Dibaca : 3 Kali |
Kamis, 21 Mei 2026, 00:42:09 WIB, Dibaca : 5 Kali |