ruangargumen.com | SUMEDANG – Di tengah gempuran modernisasi yang mengikis sekat-sekat budaya lokal, sebuah narasi segar mengenai penguatan jati diri bangsa dihadirkan dalam Gelar Budaya Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara. Diinisiasi oleh Bayu Satya Prawira, festival budaya ini tidak sekadar tampil sebagai tontonan musiman, melainkan sebuah gerakan taktis untuk ngamumule (melestarikan) warisan leluhur.
Bayu Satya Prawira dalam narasinya menegaskan bahwa kebudayaan adalah fondasi resiliensi sosial. Melalui ruang ekspresi yang mempertemukan 16 grup seni—mulai dari eksotisme Tari Umbul, ketangkasan Pencak Silat, hingga harmoni Calung dan Jaipongan, Bayu berhasil mentransformasikan panggung budaya menjadi ruang dialektika antar-generasi.
"Gelar budaya ini bukan sekadar romantisasi masa lalu, melainkan upaya kontekstualisasi nilai-nilai tradisi agar tetap relevan bagi generasi hari ini. Kita tidak hanya melestarikan gerak dan rupa, tetapi merawat ruh gotong royong dan identitas filosofis masyarakat Sumedang," ujar Bayu dalam pandangan filosofisnya.
Wawasan mendalam Bayu dalam melihat seni sebagai instrumen kohesi sosial terbukti ampuh. Festival ini sukses mengintegrasikan potensi kultural dari seluruh penjuru Kebonjati, menjadikannya sebuah ekosistem kebudayaan yang hidup dan bergerak dinamis di tingkat akar rumput.
Sumber: Ruang ArgumenMagister Hukum Kesehatan UNINUS MMRS Universitas Gajayana RPL MKM Universitas MH Thamrin MMRS Universitas Sangga Buana ARS University
Kamis, 21 Mei 2026, 00:48:05 WIB, Dibaca : 5 Kali |
Kamis, 21 Mei 2026, 00:45:03 WIB, Dibaca : 4 Kali |
Kamis, 21 Mei 2026, 00:42:09 WIB, Dibaca : 5 Kali |